Mahasiswa dan organisasi
merupakan kedua hal yang tidak dapat terpisahkan. Kura-kura, alias
kuliah-rapat kuliah-rapat, itulah sebutan bagi mereka, para mahasiswa
yang aktif di beberapa kegiatan kampus. Bahkan, tidak jarang mereka rela
pulang larut malam dari kampus setiap harinya demi menghadiri rapat ini
dan itu. Kehidupan berorganisasi di kampus nyatanya memiliki begitu
banyak pandangan dan sorotan. Ada yang memandang bahwa dengan mengikuti
kegiatan organisasi hanya akan menghambat nilai akademik. Hmm, masa sih?
Namun, tidak sedikit juga yang menganggap bahwa dengan bergabung dalam
organisasi kampus akan memberikan banyak sekali manfaat bagi dirinya,
salah satunya dengan menjadi mahasiswa yang eksis yang terkenal seantero
kampus.
Sebagai seorang
mahasiswa, berprestasi di bidang akademik sudah menjadi sebuah
kewajiban. Yap, tugas kita sebagai seorang mahasiswa adalah belajar!
Tapi, apa iya cukup dengan belajar saja? Selain datang ke kampus untuk
menimba ilmu, alangkah baiknya kalau seorang mahasiswa juga
menyeimbangkan kehidupannya sebagai mahasiswa dengan mengikuti berbagai
kegiatan di bidang non akademik, salah satunya dengan aktif di beberapa
organisasi kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM),yaah.. mungkin saya dan teman-teman yang tergabung dalam Rinjani Muda Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gunung Rinjani salah satu kelompok kecil dari penyataan diatas.
“Berliterasilah seindah mungkin, hingga kau dapati kenikmatan ilmu tiada akhir.”
Kampus merupakan dunia baru bagi siswa-siswa yang lulus dari bangku
Sekolah Menengah Atas (SMA) dan setingkatnya. Tentunya status yang
mereka dapatkan juga berbeda, yakni sebagai ‘maha’siswa. Menjadi seorang
mahasiswa pastinya harus memiliki perubahan dalam pola pikir, sikap,
tanggung jawab, dan kedewasaan. Semua itu perlu dikembangkan secara
optimal guna mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kedewasaan dalam
bersikap dan berpikir pun dibutuhkan untuk menghadapi ragam tugas dan
tantangan yang lebih berat.
Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agent of change dan
kaum intelektual dipercaya oleh masyarakat untuk melakukan perubahan
tatanan kehidupan ke arah yang lebih baik. Mereka yang disebut
“mahasiswa” memerlukan banyak modal dan persiapan matang untuk menjadi
insan yang berkredibilitas tinggi. Hal demikian dapat dicapai dengan
membudayakan literasi dalam setiap napas kehidupannya.
Pohon dapat tumbuh subur jika diberi pupuk yang cukup sebagai asupan
nutrisi terbaik. Pemberian pupuk yang cukup dan rutin mampu menjaga
kekuatan pohon hingga ke akarnya. Kekokohan akar pohon dapat mencegah
tumbangnya pohon yang diterpa angin. Begitu pula yang terjadi hubungan
antara mahasiswa dan dunia literasi. Literasi menjadi suplemen utama
bagi mahasiswa untuk mengembangkan daya nalar, pola pikir, dan
kekritisannya. Literasi yang terus dibudayakan mampu membuat
produktivitas mahasiswa meningkat. Selain itu, budaya literasi yang
telah mendarah daging dapat dijadikan pijakan kuat hingga terhindar dari
seleksi kehidupan yang semakin edan.
Kata literasi masih terdengar asing bagi sebagian kalangan mahasiswa.
Padahal tanpa disadari literasi telah lekat dalam kegiatan akademik
selama bersekolah. Mulai dari membaca buku, berdiskusi tentang pelajaran
atau tugas dengan teman, serta membuat tulisan. Semua itu adalah bagian
pokok dari literasi. Sayangnya, konsep ideal dari budaya literasi belum
direalisasikan secara optimal oleh para elit intelektual.
Dan kami yang menyebut diri Rinjani Muda siap menyelam dilautan literasi dan menjadi Agent of change
Komentar
Posting Komentar